Ada masa ketika dunia terasa terlalu sempit.
Langit mendung, pikiran penuh kabut.
Luma tahu rasa itu:
ketika cahaya dari luar tak bisa menembus jendela dalam diri sendiri.
Tapi entah bagaimana,
selalu ada satu jendela kecil
yang diam-diam masih terbuka.
Dan lewat celah itulah harapan menyelinap masuk,
meski hanya seujung sinar.
---
> “Kegelapan tidak pernah memadamkan cahaya.
Cahaya hanya menunggu ditemukan.”
---
Luma belajar,
kadang jendela itu bukan dibuka dari luar—
melainkan dari dalam.
Dari keberanian untuk tidak menyerah,
dari niat sederhana untuk bangun esok hari,
dari bisikan lembut pada diri sendiri:
“Aku masih di sini. Aku akan terus mencoba.”
---
Jendela dalam gelap bisa berupa:
satu lagu yang mengingatkanmu bahwa kamu masih hidup
satu pesan dari seseorang yang tidak kamu sangka peduli
atau hanya secangkir teh yang kamu buat untuk dirimu sendiri
sebagai bentuk perawatan yang lembut
di tengah malam yang terasa kosong.
---
Luma tahu,
tidak semua orang berani membuka jendela.
Terkadang gelap itu terasa lebih akrab daripada cahaya.
Tapi kamu tidak sendiri.
Jendela itu tetap ada.
Dan kamu punya kunci untuk membukanya.
---
> “Be the crack where the light gets in.”
– Rumi
---
Kamu tidak harus membuka semua tirai sekaligus.
Cukup satu celah.
Cukup satu napas.
Dan biarkan cahaya kecil itu menyentuhmu pelan-pelan,
tanpa tergesa.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar